Aku Meleleh

rain

Ahh, kalau begini bagaimana aku bisa melupakanmu, Sayang? Kamu memandang dalam kedua mataku, tanganmu menyentuhku lembut, lalu menggenggam jemari tanganku, sementara darahku mendesir saat kamu menyentuhku. Hatiku bergejolak, berusaha keras menahan hasrat untuk memelukmu, membelaimu dalam pangkuanku. Sulit sekali menolehkan kepalaku, memalingkan pandanganku dari wajahmu yang jelita. “Aku suka kamu.” ujarmu tersenyum.

Aku mengejarmu karna aku menginginkanmu..” dengan tatapan penuh arti kamu memandangku, lalu menyeruput secangkir cappucino hangat yang tersaji di atas meja kita.

Bagaimana mungkin kamu yang mengejarku, Sayang? Bukankah sejak semula aku yang ingin mengenalmu lebih jauh? Menyapamu setiap hari? Menggodamu hingga kau menyukaiku?

Katakan sesuatu. Apa kamu juga menyukaiku?“Lagi-lagi suaramu yang lembut bergemerincing menanti jawabanku. [Baca Selengkapnya..]

Hai, cantik!

hai, cantik!

Hai, cantik! Nengok sini dong!!

Biarkan aku melihat senyummu

Menatap wajahmu dalam binar cahaya mentari

Menyentuh lembut jemari tanganmu

Ijinkan aku menitip cinta lewat hatiku yang berdebar merindumu

Menantimu di seberang pulau

Berharap kamu menoleh

Menerima pelukanku dan bergelayut manja di bahuku..

Tawamu Mengalihkan Duniaku

love is beautiful

Judul tulisan ini, mengungkapkan perasaan saya beberapa hari ini. Iyaaa, benerrran. beberapa hari ini. Pyuuhhh.. Kalau dia ketawa, dunia saya serasa terbalik, dag dig dug jedeerr. Makan gak konsen, tidur gak konsen, gara-gara keinget dia. Eh, bisa kan ya tidur gak konsen? Pokoknya ketawanya bisa mengalihkan dunia saya. Ibaratnya sih, saya bisa memindahkan gunung karena tawanya. geblegh dah

Kalau dia tersenyum, rasanya jantung saya mau copot..

Kalau dia menyapa saya, saya jadi cengar-cengir gak jelas. [baca Selengkapnya..]

Perjanjian Darah

tajammm

Maret hari ke 20

Kita berdiang, menunggu datangnya surya

Ku pandang dua mata penuh binar ingin tahu, coba menerka hatinya, menetak raguku

Kuputuskan “Hanya kamu yang tahu rahasiaku

Was-wasku membuncah, kau meyakinkanku dengan senyum

Kugores belati di telapak tanganku, kutusuk paku panas pada tanganmu

Darah segar mengalir, menetes, membasahi pergelangan tangan

Kugenggam erat tanganmu, darah kita di antaranya

Torehan belati berdenyut perih dan hangat, menyatukan kita

Ini Perjanjian Darah” kau mengangguk

Melanggar berarti mati…“kau setuju [Baca Selengkapnya..]

Dasar Centil

sweet childs

Kemarin, saat pulang ke rumah, saya agak terkejut saat berbincang-bincang dengan adik saya yang masih SMA. Saya tinggal di kostan, jadi pulang ke rumah hanya seminggu sekali, kadang dua minggu baru pulang. Terpencil dari keluarga, membuat saya banyak ketinggalan info-info tentang keluarga saya sendiri.

Seperti ini contohnya :

Saya       : HP nya si Bunga mana, Pit?

Pita        : Kan udah lama hilang kaliii.

Saya       : Hah? Kapan emang? Pantesan tiap kali gue pulang gak pernah liat hp itu lagi.

Pita        :Udah lama lah, waktu si Bunga pergi jalan-jalan sama gurunya ke manaaa itu, gue juga lupa.

Saya       :Ooo, trus ibu marah gak?

Pita        : Gak, ibu cuma bilang, ‘sukurin..’ hahahaha

Saya       :Beuhh.. coba gue yang ngilangin HP, pasti dimarahin *rolling eyes*

Pita        : Iya kali. Lagian si Bunga tuh semenjak ada HP jadi makin centil.

Saya       :Lho, memang dia anaknya centil kan? Dari dulu juga gitu.

Pita        :Yeee, lu belum tau ya?

Saya       :Tau apaan sih?

Pita        :Si Bunga kan pacaran tau!

Saya       : HAH? ANAK KELAS 6 SD PACARANNN??? [kaget dan shock!! Gileee, gue kalah saing dari adek gue!!!] [Baca Selengkapnya..]

Mau Putus Kok Ribetttt

hatiku hancur

Kamu yakin tak mau mengubahnya?

Tidak. Maaf, keputusanku sudah bulat.

Aku minta maaf sayang..

Apa? Sayang? Setelah sekian lama kau tak hubungi aku??

Kamu kan masih pacarku, aku masih bisa memanggilmu dengan ‘sayang’

Cuma status di fesbuk saja kan yang berkata aku pacarmu? Selebihnya? Kau tak pernah ada untukku.

Ah, baiklah, tak apa!! Aku sangat merindukanmu… Tiap malam aku teringat padamu, hanya kamu!

Oh ya? Tapi maaf sekali lagi, sudah lama aku tak merasakan seperti yang kau rasakan padaku. Kalaupun kau rindu, mengapa tak pernah temui aku??

Mengertilah keadaanku, aku tak bisa menuruti kemauanmu untuk bertemu denganku setiap saat.

Hah? Setiap saat katamu? Bahkan aku hanya meminta dua minggu sekali.  Itu saja, namun kau tak mampu.

Tak ingatkah kamu, apa yang telah kita lalui berdua? Saat-saat terindah dalam hidup kita? Kamu mau melupakannya begitu saja ya?

Aku ingat, namun kaulah yang membuatku perlahan melupakan kenangan indah itu. Sekarang saat aku mengingatnya lagi, semua hanya berupa bayangan kabur antara kamu dan aku.

Bisakah kita mengulang dari awal lagi? Seperti saat kita baru bertemu dan berjanji..??

Tak ingatkah kau, dulu aku sudah pernah memberikan kesempatan yang sama? Nyatanya sama saja.

Bagaimana kalau mulai sekarang aku akan rajin menghubungimu? Kita akan sering bertemu, kamu senang kan?

Kenapa harus sekarang? Tidak dari dulu?

Aku benar-benar menyesal.

Ahh, penyesalan memang selalu datang terlambat.

Maafkan aku, sayangku.

Aku maafkan, tapi tolong, tinggalkan aku.

Serius? Kamu yakin? Gak bercanda kan?

Hhhh… Apa daritadi kau pikir aku bercanda, hah? Kau tak lihat ketegasan dalam tiap kata-kataku?? [emosiku meninggi...]

I love you always…

Udah dehh, basi tau!!

Sekarang aku mau kamu yang mengerti aku. Aku Mau PUTUS!!

Ngerti gak???

Atau harus kulempar Sendal Jepit ini ke mukamu???? Grrrrrr….

Sampai Kita Tua Nanti

just married

Cerita ini adalah versi lain dari postingan Victor beberapa hari yang lalu. Seperti yang pernah saya ungkapkan di komennya, bahwa saya pernah membaca tulisan yang mirip dengan postingan tersebut. Tulisan ini berasal dari sebuah milis yang kemudian di-copas oleh kawan saya menjadi sebuah catatan di facebook-nya. Lepas dari siapa menjiplak siapa, saya tidak terlalu peduli. Pesan moral dari cerita ini sudah cukup mengena.

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti di depan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.

Ini adalah kejadian sepuluh tahun yang lalu. Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut.

Ia adalah pegawai negeri sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai di rumah juga pada waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka-sangka. [Baca Selengkapnya..]