Hatiku sakit melihat sejarah mutiara yang indah itu.. Sakit harus mendengar cerita pemiliknya yang dulu hanya menginginkan keindahannya. Semakin sakit karena saat pemiliknya yang dulu sudah bosan dia dicampakkan begitu saja.
Aku bisa melihat betapa tersiksanya mutiara itu, maka kuberanikan diri untuk mendekatinya..
“Cantik.. Kenapa cahayamu terlihat redup?” tanyaku manis.
“Tak usah kau menggodaku kalau hanya tertarik akan indahku!” ucapnya ketus.
“Aku tak pernah menggodamu.”jawabku datar.
“Terus apa yang kamu inginkan? Menjamahku lalu meninggalkanku seperti pemilikku dulu?” bentaknya padaku.
“Aku hanya ingin melindungimu.” jawab ku takut.
“Bagaimana bisa kamu melindungiku? Dirimu saja kau tidak bisa!” ucapnya lagi.
“Aku memang lemah.. Justru karena ku lemah ku takkan sanggup menyakitimu seperti pemilikkmu duli.” jawabku terisak.
“Kamu terlalu lemah.. Terlalu cengeng. Bagaimana bisa menjagaku.” tetap dijawabnya dengan nada ketus.
“Aku yakin aku bisa.” dan tangisku menjadi.
“Tapi kenapa kau memilihku? Aku sudah pernah di jamah oleh pemilikku sebelumnya.” jawabnya dingin.
“Masih banyak mutiara yang lebih indah dan mengalahkan keindahanku.” jawabnya lagi.
“Pemilikmu yang dulu memang pernah menjamahmu.. Tapi satu yang tak bisa dia jamah darimu dan aku yakin cuma aku yang bisa.”
“AKU?” tanyanya meyakinkan diri.
“HATIMU.. Karena hanya aku yang bisa melihat dan merasakan hatimu.” jawabku masih terisak dan membuatnya terdiam.
“Ku mohon percayakan hatimu padaku. Karena aku akan menjagamu sampai akhir waktuku.” ujarku dengan tangis yang makin menjadi.
“Aku percaya kamu.” ucap mutiara itu dan dia mendekatiku lalu menghapus air mataku.
“Cengeng.. Digituin aja udah nangis.” ucapnya diiringi tawa lepas yang membuatku senang karena mutiara itu sudah tak sedih lagi.
Sekarang tinggal tugasku melindunginya dan tak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya lagi karena dia sudah menjadi MILIKKU.
Filed under: cerpenku


