Ku bangun istana berfondasi kepercayaan dan kejujuran.
Ku desain seindah mungkin dengan cinta. Jendela yang megah dengan tirai berwarna zambrud membimbing mentari menerangi pagi dalam istana yg dingin. Menghangatkan tiap sudut lantai marmer.
Ku tanami halaman luasnya dengan bunga pelangi, kusiram dan kupupuk dengan cinta.
Aku puas dengan semuanya, istanaku sangat indah. Mempesona tiap mata iri yang memandangnya.
Ya, aku yakin istanaku sempurna.
Sampai pada suatu saat badai datang menghempas istanaku. Hah, kupikir istanaku yang megah tak akan goyah. Toh sudah kubangun dengan pondasi terkuat.
Ternyata badai itu lebih besar dan lebih berbahaya dari duga ku.
Badai yang membawa topan bersamanya dan gempa menyusulnya. Seolah kiamat hampir tiba.
Istanaku hancur meninggalkan fondasi retak dan bebatuan dingin..


